Kesepian

Satu yang pasti tentang diri saya, saya selalu kesepian sejak dahulu.
Setiap kali saya merindukan seseorang, saya selalu memendamnya.
Sehingga ketika ada seseorang yang menyatakan rindunya untuk saya, saya tak bisa menerimanya dengan baik dan menyatakan saya juga merindukannya pula bahkan ketika saya juga merindunya.

P.s saya rindu juga. Sangat.

Iklan

The reason

Kadang kalian pernah mikir ga sih kira-kira apa ya alasan tuhan ngebiarin kita hidup sampai detik ini? Itulah pertanyaannya yang akhir-akhir ini muncul di benak gue. Gue pernah hampir mati, mungkin jarak antara gue dan maut cuma tinggal sekian centi lagi. Tapi gue hidup. Sampai detik ini masih bisa nafas, makan, tidur dan lain-lain. Tapi apakah gue berhak menikmati hidup ini? Belum tentu. Lolos dari maut pasti ada alasannya, dan gue rasa alasan gue adalah sebuah hukuman. Bukan. Bukan kesempatan kedua atau beribu alasan indah nan penuh hikmah dimana gue masih diizinkan bernafas sampai detik ini. Melainkan hanya sebuah hukuman yang dimulai sejak gue berhasil selamat dari maut, dan mungkin hanya akan berakhir jika gue akan menemui malaikat maut lagi. Gue dihukum untuk menyaksikan orang yang gue sayang mati di depan mata gue, dan membuat gue harus mau gamau melanjutkan hidup dengan kesedihan. Memang. Sedih tak boleh berlarut. Tapi semenjak saat itu gaada satupun hal yang cukup baik (menurut gue) yang dapat membuat gue merasa cukup bahagia untuk sebentar saja melupakan kesedihan gue.  Sedikit saja rasa bahagia yang gue rasakan, langsung datang seketika rasa bersalah sebesar-besarnya karena memang alasan gue hidup saat ini bukan untuk bahagia melainkan untuk menjalani hukuman. Hukuman yang  membuat gue berpikir kalo gue boleh memutar waktu, gue akan menarik permintaan gue saat jarak antara gue dan maut cuma sekian centi. Gue harap tuhan tidak mengabulkan permohonan gue saat itu. Karena sesungguhnya hukuman untuk hidup saat ini lebih menyakitkan dibandingkan siksa neraka sekalipun.

ABU HANIFAH – THE LOVE OF MY LIFE

img-20161230-wa0003

26 Desember 2016, hari itu papa dipanggil Allah SWT. Hari itu gue yang jagain papa dari pagi di rumah sakit. dari gue datang papa tidur, dan gamau bangun padahal udah dibangunin. Ah sudahlah gue udah gamau ngorek-ngorek luka lama, luka yang diberikan hari itu.

Gue mau cerita tentang diri gue yang begitu bodohnya, belum sempet ngasih tau papa kalau gue sayang banget sama dia, you know mungkin orang bakal bilang cinta itu gak harus diucapkan dengan kata-kata, tapi enggak menurut gue. Love is nothing until you prove it, tapi menurut gue cinta juga harus diucapkan dengan lantang berani, dan tanpa malu-malu. Sedihnya, gue belum melakukan kedua hal itu, baik mengungkapkannya, ataupun membuktikannya. Papa gue pernah bilang “Penyesalan itu selalu dibelakang kalo didepan berarti diseruduk domba” garing emang, tapi menurut gue itu adalah pembelajaran hidup pertama yang papa gue kasih lewat lelucon khas seorang ayah yang mungkin waktu gue kecil rasanya ga lucu sama sekali. Tapi itu dia, tepat di detik itu saat gue sadar papa gue udah gaada, penyesalan mulai datang merayapi gue, gue menyesal karena gue gak sadar kalo tuhan udah ngasih gue kesempatan kedua dua tahun yang lalu, papa gue pernah kritis tapi kemudian sembuh, tapi entah kenapa gue ngerasa kalo emang papa baik-baik aja. pas pulang kerumah papa gue masih nganter gue sekolah setiap paginya, disitulah kebodohan gue dimulai, gue mulai menggangap batuk papa gue setiap malam adalah hal yang biasa, papa gue ga nafsu makan adalah hal yang biasa, gue mulai sibuk sendiri, gue lupa sama papa gue…. Sedihnya papa gue gapernah lupa sama gue, papa selalu ada buat gue.

Papa gue selalu dukung keputusan gue

Waktu lagi jamannya SNMPTN, papa pernah nanya gue mau lanjutin kuliah dimana waktu nganterin gue sekolah naik motor, gue jawab kalo gue masih bingung, dan papa gue kemudian menyuruh gue masuk UI. Gue yang waktu itu masih bingung mengiyakan. Pas mendekati pengumuman gue pernah duduk sama papa di meja makan, gue cerita tentang masalah gue yang gak yakin gue bakal keterima di UI bahkan PTN manapun kalo lewat jalur tulis. Terus papa gue malah bilang, kalo PTS juga bagus, dan papa gue bilang bakal tetep support pendidikan gue dimanapun itu, padahal papa gue pernah menyampaikan keinginannya untuk gue masuk UI, tapi dia gapernah maksa, di mengesampingkan keinginannya, papa adalah orang yang selalu mendukung keputusan gue dan selalu mengusahakan untuk mewujudkan keinginan gue. gue inget banget dulu waktu lagi mau daftar SMA, mama gak setuju kalo gue daftar SMANSA dengan berbagai alasan, tapi gue tetep maksa pengen nyoba daftar, dan seperti yang  udah-udah papa selalu ngedukung gue, ga Cuma dengan kakta-kata tapi dengan perbuatan, papa gue dengan sabar nganterin gue mengurus segala pendaftaran dua kali seleksi malah jalur raport dan tes tulis, dan dia gak pernah bilang kesel pas ternyata hasilnya gue ga diterima di dua seleksinya….

Papa selalu ada buat gue, kala sedih maupun senang

Papa selalu ada buat gue saat gue susah, papa ngebantu gue keluar dari masalah, dia juga gak meninggalkan gue saat gue ada masalah, masih inget waktu papa gue setiap malem ngasih bungkus makanan terus dicantolin di gagang pintu kamar gue disaat gue gabisa makan dengan normal karena beberapa alasan. Papa gue yang tau apa yang gue butuhin tanpa gue minta, papa ga pernah ngomel-ngomel saat gue minta uang buat bayar kuliah, saat mama gamau ngasih, papa yang ngedorong gue ikut perpisahan pas SMA meskipun waktu itu mama bahkan ga nampakin mukanya sama sekali, tapi papa malah nawarin. Papa yang ngasih snack waktu gue abis kecelakaan, papa yang selalu ada buat gue baik lagi susah maupun senang, tapi gue yang selalu lupa sama papa kalo semuanya udah normal.

Penyesalan

Coba waktu itu gak ke kampus buat UAS  saat papa udah ngeluh sakit dan gak kuat lagi dan stay disamping papa buat nganter dia ke dokter mungkin setidaknya papa tau bahwa sesungguhnya dia lebih penting dari kuliah gue, coba waktu itu gue gak pulang malem, pasti gue bisa beliin papa makan malam yang sesuai selera dia dan bukan cuma ngasih roti sobek pas pulang, coba pas hari sabtu gue gak kekampus , karena acara organisasi emang gak lebih penting dari papa gue yang bahkan udah setengah sadar pas gue pamit, coba waktu itu gue langsung pulang dan gak main dulu, karena sesungguhnya saat-saat papa masih sadar lebih berharga hanya sekedar untuk menjaga perasaan teman yang sudah menunggu. Coba saya tau kalau waktu papa tinggal dua tahun lagi pasti, saya bakal disamping papa, bantuin papa, nemenin papa ke dokter. Kesel untuk mengakuinya, tapi gue emang udah menyia-nyiakan papa gue sendiri.

Kalau kalian seberuntung itu untuk dapat kesempatan kedua, ketiga, keempat pastiin kalian gak akan menyia-nyiakan itu untuk sesuatu yang nantinya gabakal bisa digunain untuk menebus kesempatan yang terbuang, karena sekarang gue sadar untuk kedua kalinya gue ngebuang 80% yang gue punya untuk 20% yang gue pikir gue butuhkan. Semua yang gue raih selama dua tahun ini gak akan bisa untuk menebus bahkan hanya satu jam saja untuk ngabisin waktu sama papa gue lagi. Dan hal yang paling sedih dari kehilangan papa adalah, gue juga kehilangan cita-cita gue, karena apa yang gue lakukan selama ini adalah untuk ngebahagiain papa, tapi sekarang semuanya udah gak bisa terwujud secara nyata, karena papa gue udah gabisa merasakannya secara real. Jangan sampai kalian merasa bahwa sakitnya orang tua kalian adalah hal yang biasa, karena mungkin batuk yang kalian dengar bisa jadi batuk terakhirnya. Karena kalau itu terjadi, cepat atau lambat kalian akan merasakan hidup seperti gue, takut, takut suatu saat gue akan melupakan papa gue selamanya hanya karena beliau udah gaada, dan gabisa nepatin janji untuk terus mengingat dia di setiap detik, menit, dan jam dihidup gue.
.
.
.
.
.
.
.

I wil always love you pop.
Always have
Always will

2016, bye.

31st december, year end summary.
Stroke? One
Love confession? One
Booty call? One hundred times (thanks but no thanks to tinder)
Almost die? Two
Lose someone special? One
Have no regrets? Minus one hundred
Bad year of my life? One.

Hitung-hitungan

Tadi siang ibu berbicara soal kami yang perhitungan, alangkah lucunya. Karena sesungguhnya ibu yang memulai perhitungan, ibu yang menggarisi bagian ibu, ibu yang bilang bahwa yang milik ibu hanyalah milik ibu seseorang. Bukan milik kami, apalagi milik dia juga. Sulit rasanya melihat milik dia ibu gunakan untuk kepentingan ibu dan kami. Ibu menangis seolah ibu adalah korban. Ya memang dunia cuma peduli dengan korban. Tapi ibu kembali mengulanginya di malam hari dengan memperhitungkan hal yang bahkan tak cukup untuk memberi makan kucing di jalan. Sedih bu melihat keadaan kita dibutakan oleh seuatu yang selalu kau perhitungkan.

-anakmu

Karma

Berharap banget suatu saat keadaan nya berbalik, kamu yang sakit, kamu yang gabisa apa-apa, kamu yang gapunya apa-apa. Lalu yang kita lakukan adalah diam, menghina mu, membuatmu menderita, seperti yang kamu lakukan kepada kami.

Go fvck yourself mom.

Hening

Malam ini terasa begitu sepi, sunyi, hanya angin dan musik yg terdengar dari kotak suara yg berada di ujung ruang terbuka ini. Dan kemudian musik dari band mulai dimainkan. Menambah kebisingan tanpa arti di antara kita berempat. Sudahlah mungkin memang Begini adanya. Mungkin sudah waktunya menyerah pada keadaan.

Aku sangat-sangat mencintai kalian. Dan tak akan pernah berubah. Sedikitpun. Itu saja.

Marah.

Kenapa saya gaboleh marah?

Kenapa yang boleh marah cuma anda?

Kenapa saya gaboleh kecewa?

Kenapa yang boleh kecewa cuma anda?

Hidup dengan perasaan yang terkekang, hanya untuk mendapat tittle “anak yang baik”

Udah itu aja.

Maaf.

Dear Ibu Mugi Utami,

Maaf saya sudah menyusahkan hidup ibu, kerjaan saya hanya menghabiskan uang ibu untuk keperluan menuntut ilmu. Maaf karena saya hanya bisa pasrah saat ibu memasukkan saya ke sekolah dasar di depan rumah ibu, padahal saya sudah tes di sd bani saleh sebelah tk saya dahulu. Maaf saya hanya bisa masuk sekolah menegah pertama yang paling bagus di bekasi dan ternyata menguras habis uang ibu karena sekolah tersebut menyandang status rsbi, maaf karena selanjutnya saya susah payah harus masuk sekolah menengah atas yang ibu mau di detik terakhir, maaf telah membuat ibu khawatir saya tidak diterima, walaupun akhirnya saya diterima tapi saya tetap merasa bersalah telah membuat ibu khawatir di perjalanan menuju menengok ibu tercinta dicepu. Maaf masa SMA saya nakal karena saya selalu menyusahkan dengan minta jemput, padahal ibu sudah lelah bekerja mengajar di sebuah sd di seroja. Maaf karena saya  sudah hadir di dunia ini menyusahkan hidup ibu, mungkin ibu menyesal telah merawat saya. Maaf kan saya ya bu

Read More